<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jurnal Perempuan</title>
	<atom:link href="http://jurnalperempuan.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnalperempuan.com</link>
	<description>Untuk Pencerahan dan Kesetaraan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 10:41:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Jurnal Perempuan #73 – Perkawinan dan Keluarga</title>
		<link>http://jurnalperempuan.com/2012/05/2756/</link>
		<comments>http://jurnalperempuan.com/2012/05/2756/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 08:26:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mariana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal Perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalperempuan.com/?p=2756</guid>
		<description><![CDATA[Judul Jurnal Perempuan: Perkawinan dan Keluarga
Edisi: 73
 Penerbit: Yayasan Jurnal Perempuan, Februari 2012
Tebal: 170 halaman
ISSN: 1410-153X
Jurnal Perempuan membahas kebijakan mengenai keluarga yang banyak berdampak pada beragam persoalan kehidupan perempuan. Perempuan membutuhkan perlindungan, pelayanan, dan hak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="JUSTIFY"><strong>Judul J</strong><a href="http://jurnalperempuan.com/2012/05/perkawinan-dan-keluarga/cover-jp-73d/" rel="attachment wp-att-2722"><img class="alignleft size-full wp-image-2722" title="cover JP 73d" src="http://jurnalperempuan.com/wp-content/uploads/2012/05/cover-JP-73d.jpg" alt="" width="153" height="235" /></a><strong>urnal Pe</strong><strong>rempuan: Perkawinan dan Keluarga<br />
Edisi: 73</strong><br />
<strong> Penerbit: Y</strong><strong>ayasan</strong><strong> Jurnal Perempuan, Februari 2012<br />
Tebal: 170 h</strong><strong>alaman<br />
ISSN: 1410-1</strong><strong>53X</strong></p>
<p align="JUSTIFY"><strong></strong>Jurnal Perempuan membahas kebijakan mengenai keluarga yang banyak berdampak pada beragam persoalan kehidupan perempuan. Perempuan membutuhkan perlindungan, pelayanan, dan hak individu sebagai manusia seperti berkarir, hak dibantu untuk persoalan pengasuhan, identitas kewarganegaraan yang otonom, serta kesehatan reproduksi dan seksualitasnya dijamin di dalam keluarga.</p>
<p>Jurnal Perempuan Edisi 73 kali ini mengangkat persoalan perkawianan dan keluarga, terutama dalam hal kebijakan, dengan harapan negara dapat membantu memikirkan kelangsungan hidup perempuan ke arah yang lebih baik dan membahagiakan mereka. Perempuan membutuhkan keadilan mulai dari rumah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalperempuan.com/2012/05/2756/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkawinan dan Keluarga</title>
		<link>http://jurnalperempuan.com/2012/05/perkawinan-dan-keluarga/</link>
		<comments>http://jurnalperempuan.com/2012/05/perkawinan-dan-keluarga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 08:09:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mariana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Jurnal Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[perkawinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalperempuan.com/?p=2721</guid>
		<description><![CDATA[Rumah adalah tempat kita pulang  Namun bagi perempuan, banyak persoalan yang justru berawal dari rumah. Rumah dianggap tempat menyimpan rahasia dan menutup aib, karenanya dianggap kurang penting sebagai persoalan publik. Di dalam rumah, kita akan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" align="JUSTIFY"><a href="http://jurnalperempuan.com/2012/05/perkawinan-dan-keluarga/louise-robinson-civil-marriage-celebrant-1/" rel="attachment wp-att-2787"><img class="alignleft size-full wp-image-2787" title="louise-robinson-civil-marriage-celebrant-1" src="http://jurnalperempuan.com/wp-content/uploads/2012/05/louise-robinson-civil-marriage-celebrant-1.jpeg" alt="" width="249" height="286" /></a>Rumah adalah tempat kita pulang  Namun bagi perempuan, banyak persoalan yang justru berawal dari rumah. Rumah dianggap tempat menyimpan rahasia dan menutup aib, karenanya dianggap kurang penting sebagai persoalan publik. Di dalam rumah, kita akan membicarakan perkawinan, keluarga, dan berkaitan langsung dengan persoalan pengasuhan, ekonomi, beban ganda serta kesehatan reproduksi. Faktanya paling banyak dibebankan kepada perempuan. Begitu banyak persoalan perempuan di rumah yang perlu diatur dalam kebijakan negara untuk kelangsungan hidup mereka yang lebih baik. Bagaimanakah kebijakan keluarga di Indonesia? Dan apakah negara telah membantu melalui kebijakan dan institusinya sehingga kehidupan perempuan berkeluarga lebih baik?</p>
<p style="text-align: left;" align="JUSTIFY"> Di Indonesia, 40 persen perempuan pekerja harus mengasuh anaknya sambil bekerja, 37 persen bergantung pada saudara perempuannya dan 10 persen menitipkan pada anak perempuan yang lebih tua untuk membantu. Atas keadaan ini, perempuan terpaksa meninggalkan pekerjaannya atau keluar dari pasar tenaga kerja, atau mencari pekerjaan paruh waktu, yang dapat membawa konsekuensi negatif bagi pendapatan mereka serta pengembangan keterampilannya.</p>
<p style="text-align: left;" align="JUSTIFY">Pengasuhan anak menjadi tidak ada solusi bahkan tidak teratasi, disebabkan menghadapi pilihan sulit. Misalnya, karena orang tua bekerja, anak yang paling besar perlu ikut berperan mengasuh anak yang paling kecil, orangtua perlu membawa anak-anak mereka ketika bekerja, atau seringkali membuat anak mereka tidak melanjutkan sekolah dengan menjadikan mereka sebagai pekerja anak.</p>
<p style="text-align: left;" align="JUSTIFY">Perempuan yang bekerja sering dituntut untuk tetap memiliki tanggungjawab pada keluarga sepenuhnya, dan apabila keluarga tidak berkembang dengan baik, perempuan akan dianggap sebagai penyebabnya dan diminta untuk kembali ke rumah. Dan sejauh manakah pembagian kerja di dalam keluarga dibebankan hanya kepada perempuan.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam keluarga yang “normal” sekalipun masih banyak persoalan yang perlu ditelaah, misalnya status istri dalam akta keluarga yang tidak dapat menjadi kepala keluarga padahal tidak sedikit istri yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga, atau perempuan tidak dapat memiliki identitas rumah tinggal sendiri, misalkan KTP harus menyesuaikan dengan alamat suami berdasarkan akta keluarga. Selain itu masalah harta, sekalipun istri mencari nafkah dan memiliki harta, dalam hukum keluarga di Indonesia, status kepemilikan harta tetap milik suami, begitupula dalam hal warisan, harta Ibu tetap perlu atas ijin suami atau anak-anaknya.</p>
<p style="text-align: left;" align="JUSTIFY">Jurnal Perempuan membahas kebijakan mengenai keluarga yang banyak berdampak pada beragam persoalan kehidupan perempuan. Perempuan membutuhkan perlindungan, pelayanan, dan hak individu sebagai manusia seperti berkarir, hak dibantu untuk persoalan pengasuhan, identitas kewarganegaraan yang otonom, serta kesehatan reproduksi dan seksualitasnya dijamin di dalam keluarga.</p>
<p style="text-align: left;" align="JUSTIFY">Jurnal Perempuan Edisi 73 kali ini mengangkat persoalan perkawianan dan keluarga, terutama dalam hal kebijakan, dengan harapan negara dapat membantu memikirkan kelangsungan hidup perempuan ke arah yang lebih baik dan membahagiakan mereka. Perempuan membutuhkan keadilan mulai dari rumah. Di dalamnya terdapat Nani Zulminarni yang menceritakan kehidupan para kepala keluarga perempuan (janda) yang harus mengasuh sekaligus bekerja keras sendirian, Atnike Nova Sigiro mengurai bagaimana perempuan membutuhkan akses langsung atas kesejahteraan keluarga, Maria Ulfah Anshor yang membongkar kebijakan perkawinan dan hukum Islam yang ramah terhadap perempuan, Hasbullah Thabrany membicarakan perlunya jaminan sosial dan kesehatan sebagai syarat mutlak yang harus didapatkan perempuan, Sulistyowati Irianto yang telah meneliti Hukum Waris dalam Peradilan Indonesia, serta Prijono Tjiptoherijanto yang menulis dari sisi perempuan yang bekerja. Vera Kartika Giantari mengambil sisi nasib kehidupan anak sebagai bagian dari anggota keluarga, khususnya di kota Solo, Sragen dan Klaten.</p>
<p style="text-align: left;" align="JUSTIFY">Jurnal Perempuan tidak lupa melakukan wawancara secara mendalam kepada Musdah Mulia tentang Kompilasi Hukum Islam dalam UU Perkawinan serta Maria Farida, Hakim Mahkamah Konstitusi kita yang menjelaskan apa gunanya kebijakan khusus untuk perempuan. Melalui kajian ini Jurnal Perempuan berharap dapat membantu parlemen maupun pemerintah untuk memperhatikan lebih jauh mengenai persoalan yang dialami perempuan yang biasanya tidak menjadi bagian dari perbincangan politik atau publik. Kebijakan negara yang adil gender dalam persoalan rumah tangga, serta  bagaimana pelaksanaannya sangat memberi dampak luas bagi kehidupan perempuan sampai generasi mendatang.<strong> (Redaksi)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalperempuan.com/2012/05/perkawinan-dan-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Daftar Donatur Sahabat JP</title>
		<link>http://jurnalperempuan.com/2012/05/daftar-donatur-sahabat-jp/</link>
		<comments>http://jurnalperempuan.com/2012/05/daftar-donatur-sahabat-jp/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 05:55:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mariana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Donatur Gerakan 1000 Sahabat JP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalperempuan.com/?p=2711</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
Jurnal Perempuan mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada anda yang telah bersedia menjadi donatur Gerakan 1000 Sahabat JP. Donasi anda sangat berarti untuk kelanjutan kegiatan dan terbitan Jurnal Perempuan berikutnya.
Daftar Nama Donatur Sahabat JP, April 2012








No


Nama


Institusi


Negara



1.
Ayami ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Jurnal Perempuan mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada anda yang telah bersedia menjadi donatur Gerakan 1000 Sahabat JP. Donasi anda sangat berarti untuk kelanjutan kegiatan dan terbitan Jurnal Perempuan berikutnya.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Daftar Nama Donatur Sahabat JP, April 2012</strong></p>
<table width="100%" border="1" cellspacing="0" cellpadding="7">
<col width="15*" />
<col width="64*" />
<col width="134*" />
<col width="43*" />
<tbody>
<tr valign="TOP">
<td width="6%">
<p align="CENTER"><span style="font-size: x-small;"><strong>No</strong></span></p>
</td>
<td width="25%">
<p align="CENTER"><span style="font-size: x-small;"><strong>Nama</strong></span></p>
</td>
<td width="52%">
<p align="CENTER"><span style="font-size: x-small;"><strong>Institusi</strong></span></p>
</td>
<td width="17%">
<p align="CENTER"><span style="font-size: x-small;"><strong>Negara</strong></span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">1.</span></td>
<td width="25%"><span style="font-size: x-small;">Ayami Nakatani</span></td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Dosen</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jepang</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">2.</span></td>
<td width="25%"><span style="font-size: x-small;">Sjenny Hartono</span></td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Guru Jakarta International School</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">3.</span></td>
<td width="25%"><span style="font-size: x-small;">Ade Nurhayati</span></td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Mahasiswa Kajian Wilayah Amerika Unversitas Indonesia</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">4.</span></td>
<td width="25%"><span style="font-size: x-small;">Lilies Setiawati SH</span></td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Ibu Rumah Tanggga</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">5.</span></td>
<td width="25%"><span style="font-size: x-small;">Mila K Bishri</span></td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Karyawan Departemen Perdagangan Republik Indonesia</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">6.</span></td>
<td width="25%"><span style="font-size: x-small;">Maria Ulfa Anshor</span></td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Aktivis Perempuan</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">7.</span></td>
<td width="25%"><span style="font-size: x-small;">Bagus Takwin</span></td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">8.</span></td>
<td width="25%"><span style="font-size: x-small;">Alamaturadiah Akad</span></td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Anggota DPRD Kabupaten Kota Baru-Kalimantan Selatan</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">9</span></td>
<td width="25%"><span style="font-size: x-small;">Amry S</span></td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Owner-CV Ramco</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">10.</span></td>
<td width="25%"><span style="font-size: x-small;">Prof. Dr. dr Agus Purwadianto, SP F (K), SH, Msi</span></td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Dosen FKUI</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">11.</span></td>
<td width="25%"><span style="font-size: x-small;">Dra. Sumarni Dawam Rahardjo, MPA</span></td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Pensiunan PNS</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">12.</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Ati Suryadi</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Asisten Coordinator – Human Rights Resource </span><span style="font-size: x-small;">Center for Asean (HRRCA)</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">13</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Cut Dewi Rosanti</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Mahasiswa-Universitas Negeri Jakarta</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">14</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Velita Elfani</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Chief Executive Officer-PT. Palmindo Biliton A Berjaya</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">15</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Francisia Saveria Sika Seda</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Dosen Fisip Universitas Indonesia</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Depok</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">16</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Anis Hidayah</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Direktur Eksekutif – Migrant Care</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">17</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Julia Surya Kusuma</span></p>
<p lang="fi-FI">
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Individu</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">18</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Ratna Asmarani</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Dosen-Fakultas Sastra Universitas Diponegoro</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Semarang</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">19</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Dra. Rosa Tosaini, M.Hum.</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Dosen Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Terbuka</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">20</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Sarah Sayekti</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Individu</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">21</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Zoeraini Djamal Irwan</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Dosen – Universitas Trisakti </span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">22</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Kyai Husein Muhammad</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Ketua Pembina Yayasan Fahmina</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Cirebon</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">23</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Tini Hadad</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Sekretaris Pengurus &#8211; Yayasan Kesehatan </span><span style="font-size: x-small;">Perempuan</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">24</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Andy Yentriyani</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Komisioner – Komnas Perempuan</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">25</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Henny Eunike Wirawan </span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Dosen- Fakultas Psikologi</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">26</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Joyce Siti Hanna Djaelani</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Psikolog – Yayasan Kita</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Boogor</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">27</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Sri Wahyulina</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Mataram</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Lombok</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">28</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Pdt. Ruth Saiya</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Pendeta – Pastoru Gejera Ayam </span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Ternate</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">29</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Ni Luh Arjani</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Pendeta –Pastori Gejera Ayam</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Lombok</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">30</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Dra. A. Nunuk Prasetyo Murniati, MA</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">LPSM Yabinkas</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Yogyakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">31</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Widjajanti M Santoso</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Peneliti LIPI</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">32</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Saparinah Sadli</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Aktivis Gerakan Perempuan</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">33</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Siti Chatidjah, SKM</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Ketua DP &#8211; Partai Hanura</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">34</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">E. Kristi Poerwandari</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Individu</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">35</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Dra. Niken Kiswandari</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Asdep Perlindungan Tenaga Kerja Perempuan – Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">36</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Suparman</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Guru </span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">37</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Samsidar Ida</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Gender Spesialist pada Police Project IOM </span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Banda Aceh</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">38</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Artanti Wardhani</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Program Officer Security Reform-Friedrich </span><span style="font-size: x-small;">Ebert Stiftung, Indonesia</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">39</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Manneke Budiman, Ph.D</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Dosen – Program Inggris FIB UI</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Depok</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">40</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Ahmad Dardiri</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Dosen – Universitas Negeri Yogya</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Yogyakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">41</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">ICRP</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Lembaga</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">42</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Imran Muin Yusuf</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Pengurus Pesantren Al Urwatul Wutsqaa</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Makasar</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">43</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Grace Hukom</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Transformation Development Director-World </span><span style="font-size: x-small;">Vision Indonesia</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">44</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Sjamsiah Achmad, MA</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Ketua – Pusat Pemberdayaan Perempuan dalam </span><span style="font-size: x-small;">Politik</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">45</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Dra. Astrid Wiratna</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Individu</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Surabaya</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">46</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Kunti Tridewiyanti</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Komisioner – Komnas Perempuan</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">47</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Lisza Anggraeni</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Personel Supervisor – Landscon Pharmaceutical</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">48</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Dr. Ratna Sitompul. SpM</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Dosen Fakultas Kedokteran Universitas</span><span style="font-size: x-small;">Indonesia</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">49</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Ida Ruwaida Noor</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Dosen Departemen Sosiologi Fisip UI</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">50</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Yuda Triguna</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Dirjen Ditjen Bimas Hindu – Kementrian </span><span style="font-size: x-small;">Agama Ri</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">51</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Mamik Indaryani</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Dosen – Universitas Muara Kudus</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Kudus-Jawa Tengah</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">52</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Sukardi Rinakit, Ph D</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Peneliti Senior-Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS)</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">53</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Nori Andriyani</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Direktur Lembaga Perempuan Berdaya</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">54</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Dr.Drs. R. Kintoko Rochadi. MKM</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Sekretaris Program Doktor – Program Doktor </span><span style="font-size: x-small;">IKM FKM USU</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Medan</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">55</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Ninuk Mardiana Pambudi</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Wartawan Harian Kompas</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">56</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Silverio R.L. Aji Sampurno</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Kepala Pusat Studi Sejarah Indonesia-LPPM Universitas Senata Dharma </span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Yogyakarta-Jawa Tengah</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">57</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Maria Hartiningsih</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Wartawan Koran Kompas</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">58</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Olin Monteiro</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Penulis Lepas &amp; Aktifis Perempuan-PWAG </span><span style="font-size: x-small;">Indonesia</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">59</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">J.F Mona Saroinsong</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Program Consultan-Disaster Response CRWRC (Chrhistian Reformed World Relief Committee)</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Manado</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">60</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Dr. Retno Adisoebagyo</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Dokter</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">61</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Radhar Panca Dahana</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Individu</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">62</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Dede Oetomo</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Direktur Eksekutif-Gaya Nusantara</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Surabaya</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">63</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Siti Farida Srihadi</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Pelukis</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">64</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Eko Maryadi (Al Item)</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Ketua Aliansi Jurnal Independen (AJI)</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">65</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Robertus Robert</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Jurusan Sosiologi, FIS Universitas Negeri </span><span style="font-size: x-small;">Jakarta (UNJ)</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">66</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Taufan Damianus</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Ketua Umum Partai SRI</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">67</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Ika Ardina</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Individu</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">68</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Agus Hamonongan</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Individu</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">69</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Jaorana Amiruddin. SP. MSi</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Tenaga Ahli Fraksi PAN-DPR RI</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">70</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Gulia Ichikawa Mitzy</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Mahasiswa S2 Universitas Gajahmada</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Yogyakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">71</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Ellya CH</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Staf Dinas Sosial Prov. Jawa Tengah</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Semarang</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">72</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Agnes Dewi Puspitasari</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Guru – Sekolah High Scope Bintaro</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Tanggerang</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">73</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Perpustakaan Unika Soegijapronoto</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Lembaga</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Semarang</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">74</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Dra. Latifah Iskandar</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Komisioner KPAI</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">75</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Eunsook Jung</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Assistant Professor Departmen of Politics</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">USA</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">76</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Andy Sutton</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">University of Wisconsin- Medison</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">USA</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">77</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Rachel Rinaldo</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">University of Virginia</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">USA</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">78</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Takeshi Ito</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Colorado College</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">USA</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">79</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Jiwonsuh</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Ohio State University</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">USA</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">80</span></td>
<td width="25%"><span style="font-size: x-small;">Sonya Akhamiyah</span></td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">PUSHAM Unair</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Surabaya</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">81</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Dra. Munawiah, M. Hum</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Dosen Fakultas Adab IAIN Raniry Darussalam </span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Banda Aceh</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">82</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Lestariani Waruwu</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Rohaniawan </span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Makasar</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">83</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Erna Rachmawati</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">BP3AKB</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Semarang</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">84</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Wahyu Erna Ningsih, SH, M.Hum</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Kepala Perpustakaan – Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Palembang</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">85</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Jane Ardaneshwari</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Head of Editorial Development-MRA Print Media/Publishing Group</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">86</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Drs. TG Butar-Butar. M.Kes</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Direktur Eksekutif – Yayasan Pengembangan Kesehatan Masyarakat (YPKM) </span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Papua</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">87</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Aisyiyah</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Lembaga</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Yogyakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">88</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Erlinda Ekaputri</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Konsultan</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Bekasi</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">89</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Nina Nurmila</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Dosen – PSW UIN Bandung</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Bandung</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">90</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Dini Sulamdari</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Manager Marketing – PT. Top Sentral </span><span style="font-size: x-small;">Transportama</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="6%"><span style="font-size: x-small;">91</span></td>
<td width="25%">
<p lang="fi-FI"><span style="font-size: x-small;">Nandika Ajeng Guamarawati</span></p>
</td>
<td width="52%"><span style="font-size: x-small;">Individu</span></td>
<td width="17%"><span style="font-size: x-small;">Jakarta</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalperempuan.com/2012/05/daftar-donatur-sahabat-jp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>‘Jurnal Perempuan’: Facing off against fundamentalism</title>
		<link>http://jurnalperempuan.com/2012/04/%e2%80%98jurnal-perempuan%e2%80%99-facing-off-against-fundamentalism/</link>
		<comments>http://jurnalperempuan.com/2012/04/%e2%80%98jurnal-perempuan%e2%80%99-facing-off-against-fundamentalism/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2012 04:28:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mariana</dc:creator>
				<category><![CDATA[JP Dalam Berita]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[JP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalperempuan.com/?p=2696</guid>
		<description><![CDATA[‘Jurnal Perempuan’: Facing off against fundamentalism

Prodita Sabarini, The Jakarta Post, Jakarta &#124; Fri, 08/13/2010 8:45 AM
A &#124; A &#124; A &#124;

The Jurnal Perempuan Foundation (JPF), which launched the country’s first feminist journal Jurnal Perempuan, has ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.thejakartapost.com/news/2010/08/13/%E2%80%98jurnal-perempuan%E2%80%99-facing-against-fundamentalism.html">‘Jurnal Perempuan’: Facing off against fundamentalism</a></p>
<div id="news-main">
<div>Prodita Sabarini, The Jakarta Post, Jakarta | Fri, 08/13/2010 8:45 AM</p>
<div><a id="link-large-font" title="Large Font">A</a> | <a id="link-normal-font" title="Normal Font">A</a> | <a id="link-small-font" title="Small Font">A</a> |</div>
</div>
<p>The Jurnal Perempuan Foundation (JPF), which launched the country’s first feminist journal Jurnal Perempuan, has come a long way from distributing photocopied newsletters on feminism writing as complementary material at university.</p>
<p><img title="Timely lecture: Gadis Arivia, a feminist scholar and the founder of Jurnal Perempuan, gives a lecture titled: “Media, State and Sex” in Yogyakarta, early August." src="http://www.thejakartapost.com/files/images2/up%20p21-d_12.img_assist_custom-400x267.jpg" alt="Timely lecture: Gadis Arivia, a feminist scholar and the founder of Jurnal Perempuan, gives a lecture titled: “Media, State and Sex” in Yogyakarta, early August." width="400" height="266" border="0" />Timely lecture: Gadis Arivia, a feminist scholar and the founder of Jurnal Perempuan, gives a lecture titled: “Media, State and Sex” in Yogyakarta, early August.</p>
<p>Entering its 15th year, Jurnal Perempuan has significantly contributed to the development of women and gender thought in Indonesia. It is now reaching a larger audience, as the JPF is producing work in more media forms — radio, TV documentaries and a youth magazine.</p>
<p>At the same time, the journal is facing a new challenge in its pursuit of enlightenment and equality: The rise of religious fundamentalism.</p>
<p>In her public lecture on July 30, Gadis Arivia, a feminist scholar and the founder of Jurnal Perempuan, said the idea of publishing the journal, which germinated 15 years ago, generated two types of responses.</p>
<p>“Some people assumed Jurnal Perempuan was a magazine about cooking. So bookstores offered to place the journal in the cooking book section. Others, such as magazine vendors in the Senen area, assumed it was a magazine that published pictures of women in provocative poses,” she said.</p>
<p>“It’s difficult to explain [what] a feminist magazine [is about] when the spectrum on offer is either food or erotica.”</p>
<p>When Jurnal Perempuan first hit bookstores, around 500 to 1,000 copies were sold, said JPF director Mariana Amirudin. Today, the journal has 6,000 subscribers and sells 5,000 copies in bookstores.</p>
<p>The foundation then branched out to produce radio shows to reach a larger audience, partnering with 191 radio stations in Indonesia. “The journal’s content was analysis and in-depth writing about various women issues. It has become very intellectual and now caters to the academic world,” she said.</p>
<p>“We chose radio programs as the medium of choice in 1996. Radio can be a means to reach people in the lower-middle class bracket who do not necessarily read, but listen.”</p>
<p>The JPF also produces documentaries and has a website. In 2008, the foundation launched a youth magazine called Change.</p>
<p>Women studies expert Sulistyowati Irianto said the journal helped deconstruct the rigid image people have of women and their role in society. It grew alongside the development of women’s movements and feminist thought after the reform era.</p>
<p><img title="Years of empowerment: A woman takes a picture of covers of Jurnal Perempuan on display in an exhibition, on the sidelines of an annual conference organized by the Jurnal Perempuan Foundation (JPF) in Yogyakarta." src="http://www.thejakartapost.com/files/images2/up%20p21-c_21.img_assist_custom-400x267.jpg" alt="Years of empowerment: A woman takes a picture of covers of Jurnal Perempuan on display in an exhibition, on the sidelines of an annual conference organized by the Jurnal Perempuan Foundation (JPF) in Yogyakarta." width="400" height="266" border="0" />Years of empowerment: A woman takes a picture of covers of Jurnal Perempuan on display in an exhibition, on the sidelines of an annual conference organized by the Jurnal Perempuan Foundation (JPF) in Yogyakarta.</p>
<p>“Indonesian women had their own movement but the New Order controlled and silenced it,” she said.</p>
<p>Under the New Order regime of president Soeharto, the women’s place in society was institutionalized through the marriage law, which defines the role of the husband as the head of the household, and the wife as a homemaker.</p>
<p>In her lecture, Gadis said the image of women broadcast by the state and the state-controlled media during the New Order was that of Dharma Wanita — a group of wives of officials who spent their time organizing many charity — not empowerment programs.</p>
<p>Gadis explained the Ibu-ibu (motherly woman) image prevalent during the New Order was not without a design or ideology. “It was ideal to erase from the public’s memory the image of a more radical, empowered woman active in civil movements.”</p>
<p>The Indonesian Women’s Movement (Gerwani), the largest women’s organization before the New Order, had played a big role in women’s empowerment during the Old Order regime. It was also one of the organizations that helped build Indonesia, Gadis said.</p>
<p>“Gerwani had a clear ideological line and was affiliated to the communist party. When the pogrom<br />
of the communist party took place, and people sympathized with the communists, Gerwani was also annihilated especially as its members were accused of killing the generals,” Gadis said.</p>
<p>The journal aims to deconstruct the image of women having limited roles in society. Mariana said the road to equality between genders was a change of mindset, which is what the JPF attempts to nurture.</p>
<p>Sulistyowati said Jurnal Perempuan’s continuity contributed significantly to the development of women’s thought and movement. “The issues discussed are those women talk about. The [Jurnal Perempuan] writers know their fields and understand feminist perspectives,” Sulistyo said.</p>
<p>“Their contribution is huge because many other journals don’t survive,” she said. “Jurnal Perempuan has succeeded in maintaining its presence in print media. The people behind Jurnal Perempuan have done a very good job [of maintaining this presence].”</p>
<p><img title="The stronger sex: Jurnal Perempuan is currently one of the leading publications on gender, women’s rights issues and feminism in Indonesia." src="http://www.thejakartapost.com/files/images2/up%20p21-a_36.img_assist_custom-294x440.jpg" alt="The stronger sex: Jurnal Perempuan is currently one of the leading publications on gender, women’s rights issues and feminism in Indonesia." width="294" height="440" border="0" />The stronger sex: Jurnal Perempuan is currently one of the leading publications on gender, women’s rights issues and feminism in Indonesia.</p>
<p>But it is not without difficulties, Mariana went on. In the first years, Gadis had to sell her car to cover the cost of publishing the journal.</p>
<p>She said Jurnal Perempuan measured its success against the number of people subscribing to the journal. “That’s a few steps to what we call enlightenment and equality in society.</p>
<p>“It will take a long time to produce an enlightened society.”</p>
<p>Jurnal Perempuan changed Mariana’s life. A former Islamic fundamentalist, Mariana joined Jurnal Perempuan in 2003, after studying women’s studies. She used to be a member of the NII, a group advocating the creation of an Indonesian Islamic state.</p>
<p>“I read the journal and began going through books written by Nawal El Saadawi,” she said, referring to the Egyptian feminist. Mariana enrolled in women studies at the University of Indonesia. “My mindset changed radically,” she said.</p>
<p>She became a feminist because she put a critical thinking cap on and used common sense. “I knew I still had a brain and I could tell something didn’t make sense,” she said. “I was very uncomfortable with<br />
my past. By learning about feminism, human rights and social science, I regained confidence in myself.”<br />
Gadis’ lecture at the Antara building in Thamrin was the first of what Jurnal Perempuan hopes will be a long tradition of yearly lectures.</p>
<p>Attending the lecture was Constitutional Court judge Maria Farida Indrati, the only woman in the court and the only judge voicing doubts about the necessity of the Pornography Law, as well as gay rights activist Hartoyo.</p>
<p>Gadis’ lecture, titled “Media, State and Sex” is a timely issue. At a time when the state and the media cannot differentiate between the public and private domain, and view women’s sexuality as a moral threat, Gadis’ lecture delved into the issue of how the media depicted women in rigid, limited roles, how the state was controlling women by defining their roles and even their sexuality in the form of various legislations — such as the Marriage Law that states a husband is the head of household and the wife a housewife, the “vague” Pornography Law and the revised Health Law controlling women’s reproductive rights.</p>
<p>Jurnal Perempuan grew in the freedom experienced during the reform era, Mariana said. “We were the agent of change that was partying with the freedom we had.”</p>
<p>The challenges the journal are facing today, Mariana added, was the political standoff between the progressive liberals and the religious fundamentalists.</p>
<p>“There are many setbacks in our society, be it the state of democracy and the rise of fundamentalist groups that hate women,” she said.</p>
<p>Gadis ended her lecture by asking how to improve the state’s attitude toward sex. “A state smart about sex will create a smart society as well.”</p>
<p>“It’s proven that ignorance in sex education has brought ineffective policies, creating a society<br />
that has a phobia of women’s bodies, has ensured children misunderstand [what] sex [is about] and provided an environment for violent, scary and radical groups that can only create harm.”</p>
<p><em>— Photos by JP/Prodita Sabarini</em></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalperempuan.com/2012/04/%e2%80%98jurnal-perempuan%e2%80%99-facing-off-against-fundamentalism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aleta Baun: Menyusui Batu dan Mengasuh Tanah</title>
		<link>http://jurnalperempuan.com/2012/04/aleta-ba%e2%80%99un-menyusui-batu-dan-mengasuh-tanah/</link>
		<comments>http://jurnalperempuan.com/2012/04/aleta-ba%e2%80%99un-menyusui-batu-dan-mengasuh-tanah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2012 03:48:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mariana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Jurnal Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Aleta Ba’un]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalperempuan.com/?p=2678</guid>
		<description><![CDATA[

“Pada waktu aksi-aksi demo, perempuan-perempuan di Molo mengeluarkan payudaranya untuk menunjukkan kalau tanah kami diambil sama dengan air susu ibu diambil, dan kami tidak akan bisa menyusui lagi” —Aleta Ba’un.
Sungguh benar perumpamaan perempuan dengan tanah, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="CENTER"><span style="font-size: medium;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p style="text-align: left;" align="JUSTIFY"><a href="http://jurnalperempuan.com/2012/04/aleta-ba%e2%80%99un-menyusui-batu-dan-mengasuh-tanah/aleta-baun/" rel="attachment wp-att-2679"><img class="alignleft size-medium wp-image-2679" title="aleta.baun" src="http://jurnalperempuan.com/wp-content/uploads/2012/04/aleta.baun_-300x183.jpg" alt="" width="300" height="183" /></a>“Pada waktu aksi-aksi demo, perempuan-perempuan di Molo mengeluarkan payudaranya untuk menunjukkan kalau tanah kami diambil sama dengan air susu ibu diambil, dan kami tidak akan bisa menyusui lagi” —Aleta Ba’un.</p>
<p style="text-align: left;" align="JUSTIFY">Sungguh benar perumpamaan perempuan dengan tanah, kedua makhluk ini adalah “khalifah” Tuhan untuk melestarikan kehidupan, dari keduanya pula segala keberlangsungan hidup berasal. Karena itu, perempuan dan tanah ditautkan oleh hubungan emosi yang sangat kuat. Apabila salah satu di antara mereka disakiti yang lainnya tergerak untuk melakukan pembelaan. Ketika kelestarian tanah terancam kaum perempuan berdemonstrasi di garda depan.</p>
<p align="JUSTIFY">Pergerakan perempuan inilah yang terjadi di Pulau Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kabupaten Timur Tengah Selatan. Tanah Kabupaten itu membentuk gundukan pegunungan yang indah dan mengandung kekayaan marmer sehingga sangat menggiurkan bagi kaum penjarah untuk mengeruknya. Dan kaum perempuan di sana—disebut oleh Kelik Ismunandar—“para mama”<sup><a name="sdendnote1anc" href="#sdendnote1sym"></a><sup>i</sup></sup> tak hanya mengasuh anak, namun juga mengasuh tanah. Perjuangan kaum perempuan yang berontak: melawan dan menolak pertambangan marmer.</p>
<p align="JUSTIFY">Seorang dari “para mama” itu yang termasyhur bernama Aleta Ba’un yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk gerakan perlawanan. Aleta Ba’un akrab disapa Ma Leta. Ia adalah koordinator pejuang perempuan bagi masyarakat Molo untuk menolak buldozer-buldozer yang akan menggusur pegunungan Molo. Perempuan 42 tahun ini mengisahkan perjalanan hidupnya kepada Yayasan Jurnal Perempuan setelah menerima Anugerah Saparinah Sadli 2007, Agustus tahun lalu.</p>
<p align="JUSTIFY">“Tanah tidak melahirkan tanah, manusia akan bertambah banyak, namun tanah akan semakin sempit,” tutur Ma Leta menjelaskan alasan pergerakannya kepada Nur Azizah, Kontributor Yayasan Jurnal Perempuan.</p>
<p align="JUSTIFY">Ma Leta sadar tanah kelahirannya yang mempesona, namun juga bisa mendatangkan bencana. Pegunungan Molo yang terletak di Kabupaten Timur Tengah Selatan terdiri dari 63 gunung yang diperkirakan mengandung 3,5 trilyun meter kubik marmer. Bila gunung-gunung itu dikeruk berakibat fatal. Bagi Ma Leta, Molo adalah jantung Nusa Tenggara Timur kalau tanah di Molo rusak, maka seluruh penduduk di Pulau itu akan memperoleh dampak buruknya.</p>
<p align="JUSTIFY">“Molo adalah jantung dan daerah tangkapan air bagi seluruh NTT. Kalau kejahatan pengrusakan sumber daya alam dibiarkan di Molo, mau tak mau NTT akan mengalami kesulitan terutama kekeringan karena dia sumber mata air yang mengalirkan air hingga ke hilir. Dia sebagai hulu dari NTT dan orang selalu mengatakan Molo adalah jantung NTT,” katanya.</p>
<p align="JUSTIFY">Riwayat hidup masyarakat di Molo akan musnah. Di Pegunungan itu terdapat 5 kecamatan dan 42 desa dengan jumlah keluarga tiga ribu sampai empat ribu.</p>
<p align="JUSTIFY">Untuk mengorganisir pelawanan dibentuklah sebuah organisasi bernama OAt (Organisasi Ataimamus) yang berasal dari kesepakatan tokoh-tokoh adat di sana. Menurut pengakuan Ma Leta masyarakat adat juga pecah, mereka yang menolak penambangan, dan mereka yang menerima. Karena ijin penambangan sebelum adanya kesadaran masyarakat Molo untuk melawan juga keluar dari proses adat.</p>
<p align="JUSTIFY">Perusahaan penambangan berhasil memecah masyarakat adat di Molo. Kaum bangsawan yang terdiri dari raja-raja didekati dan setuju dengan penambangan itu. Sedangkan tokoh-tokoh masyarakat yang membentuk majelis permusyawaratan adat Molo sangat menentang keras. Melalui permusyawaran tokoh-tokoh adat di sana mereka mendirikan OAt sementara Ma Leta dipercaya sebagai koordinatornya.</p>
<p align="JUSTIFY">Ma Leta hanya lulus SMA, ia mulai mengenal dunia pergerakan dari sebuah yayasan yang peduli terhadap masalah-masalah perempuan di NTT, namanya Yayasan Sanggar Suara Perempuan (SSP). Ma Leta aktif sejak tahun 1993. Namun ketika tanah kelahirannya dirongrong pengusaha pertambangan, ia merasa terpanggil oleh suara-suara tanah di sekitarnya yang terus menjerit. Pada tahun 2004, Ma Leta memutuskan keluar dari Yayasan Sanggar Suara Perempuan dan berkosentrasi dalam pergerakan melawan pengrusakan lingkungan.</p>
<p align="JUSTIFY">Bagi Ma Leta, ada hubungan yang sangat kuat kekerasan dalam rumah tangga dan seksualitas dengan kekerasan yang berasal dari rusaknya lingkungan dan krisis ekonomi. “Sumber kekerasan ini muncul ketika pangan dalam satu rumah tangga itu tidak dipenuhi. Dan bebannya akan menumpuk pada kaum perempuan,” katanya.</p>
<p align="JUSTIFY">Dan kunci utama bagi Ma Leta untuk mengurangi kekerasan terhadap perempuan terletak pemenuhan pangan dan perlindungan terhadap lingkungan. “Pangan dan sumber daya alam kalau tidak diganggu, perempuan akan sejahtera, karena segala kebutuan hidup masyarakat telah terpenuhi, kalau pangan dan kebutuhan ekonomi tercukupi maka kekerasan terhadap kaum perempuan akan menurun dengan sendirinya,” tutur Ma Leta.</p>
<p align="JUSTIFY">Perjuangan Ma Leta ini merambah medan yang sangat berbahaya. Sejak memutuskan untuk melawan, pola hidup Ma Leta sangat berubah bila dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Ia tak lagi bisa dijumpai di rumahnya. Riwayatnya bukan lagi hanya sebagai ibu rumah tangga saja namun sebagai perempuan yang terus berjuang dan bergerilya: keluar masuk kampung, naik-turun gunung, dan lebih banyak hidup di hutan serta pengungsian. Ma Leta menjadi taget sasaran perusahaan pertambangan, ia dicari-cari dan dikerjar-kejar oleh preman yang menurut pengakuanya dibentuk perusahaan dan pemerintah daerah untuk menghentikan perlawanan organisasi adat yang dipimpinya.</p>
<p align="JUSTIFY">Karena menjadi target buruan, Ma Leta pernah harus dievakuasi. Pada bulan April 2007 saat ia baru pulang dari sebuah kampung untuk pulang, preman-preman itu melakukan <em>sweeping </em>di jalan-jalan untuk mencarinya. Ia terpaksa bersembunyi di kolong jembatan, namun ketahuan juga, dia peras setelah kaki kanannya dibacok. Selanjutnya Ma Leta harus dievakuasi oleh pada aktivis PIKUL (Penguatan Institusi dan Kapasitas Lokal).<sup><a name="sdendnote2anc" href="#sdendnote2sym"></a><sup>ii</sup></sup></p>
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY">“Selama memimpin masyarakat, saya selalu diintimidasi, selalu dikejar, kaki kanan saya dibacok. waktu itu saya juga lari bersembunyi di kolong jembatan, preman itu memeras minta uang 400 ribu, agar nyawa selamat saya serahkan uang 200 ribu yang saya punya waktu itu,” kata Ma Leta sambil menunjukkan bekas bacokan di kaki kanannya.</p>
<p align="JUSTIFY">Kekerasan fisik terus dialami Ma Leta. Ia pernah dipukul di depan kantor pengadilan karena berani menggerakkan masyarakat untuk menggugat bupati. Rumahnya dilempari batu oleh para preman, kaca jendela pecah, sehingga ia berserta suami dan anak-anaknya terpaksa mengungsi hingga saat ini. Ma Leta memiliki tiga orang anak, yang pertama kelas tiga SD, yang kedua kelas satu SD dan ketiga masih berumur satu tahun lebih. Suatu hari suaminya, yang seorang guru, pernah menjadi sasaran teror pembunuhan. Sang suami, Godlif Sanam, pun memprotes dan meminta Ma Leta mengakhiri perjuangannya. “Tapi, setelah saya berikan pengertian, ia pun ikhlas mendukung perjuangan saya sampai titik darah terakhir.”</p>
<p align="JUSTIFY">Tak hanya kekerasan fisik, Ma Leta juga menjadi sasaran pembunuhan karakter. Hidupnya yang tak pernah di rumah, selalu berpindah-pindah dan tak mengenal waktu, ia dituding oleh lawannya sebagai perempuan yang suka keluar malam, sundal, dan pelacur. Ia juga pernah difitnah lari dengan suami orang.</p>
<p align="JUSTIFY">Segala resiko perjuangan dihadapi oleh Ma Leta dengan penuh sabar dan tegar. Ia pun bisa memetik romantisme dari pengamannya sebagai perempuan pergerakan. Kehidupannya bersama keluarga sekarang menurut Ma Leta, kadang dianggapnya lucu. “Saya seperti belajar pacaran lagi dengan suami, karena kalau ketemu dengan suami hanya beberapa jam. Bertemunya pun di rumah orang, datang malam, pisah tengah malam.”</p>
<p align="JUSTIFY">Namun juga sebagai manusia biasa, sebagai perempuan dan ibu, Ma Leta tetap merindukan keluarga, kedamaian, dan ketenangan. “Saya sebenarnya sangat rindu pada anak dan suami, namun persoalan ini tidak bisa membuat saya kembali ke rumah secepatnya. Dampak dari pengrusakan lingkungan ini secara pribadi akan menimpa suami dan anak saya, tapi biarlah saya yang berkorban daripada anak dan suami yang memang tidak tahu banyak hal.”</p>
<p align="JUSTIFY">Ma Leta sangat mengenal kearifan orang Molo memandang tanah mereka. Dalam masyarakat itu dikenal filosofi “uim bubu” (<em>ume</em> = rumah) yang berdiri kukuh dengan <em>amnesat, nij</em>, dan <em>tefi</em>. <em>Amnesat</em> berarti dasar, yang diibaratkan sebagai <em>oekanaf</em> (air), yang penyangganya adalah <em>fatukanaf</em> dan <em>haukanaf</em> (batu dan kayu). <em>Nij</em> adalah tiang, yang diibaratkan sebagai <em>afu</em> (tanah), yang merupakan tempat bertanam, beternak, dan mendirikan rumah. Dan <em>tefi</em> berarti atap, yang diibaratkan sebagai <em>pena nok ane</em> (jerih payah) yang diperoleh dari hasil pemanfaatan <em>oekanaf, fatukanaf, haukanaf</em>, serta <em>afu</em>. Filosofi di atas meneguhkan bahwa Molo tidak bisa dipisahkan dari tanah, hutan, air, batu, kayu, serta binatang-binatang yang hidup di dalamnya.<sup><a name="sdendnote3anc" href="#sdendnote3sym"></a><sup>iii</sup></sup></p>
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY">Ma Leta adalah seorang feminis sejati, ia berjuang menggunakan bahasa dan cara perempuan. Komentar-komentarnya tentang “tanah yang tak bisa melahirkan tanah”, kelestarian alam yang dihubungan dengan jati diri perempuan adalah alasan dan bahasa dia dalam menggerakan kelompok perlawanan.</p>
<p align="JUSTIFY">“Perempuan selama ini mungkin dianggap tak berdaya untuk berjuang, berbicara, dan mengambil keputusan apa-apa, mereka dikira tak mampu melawan siapa-siapa, tapi ketika mereka punya sumber daya alam diambil, tanah mereka dirampas, air mereka diganggu, itu seperti mencopot nyawa mereka,” tegas Ma Leta.</p>
<p align="JUSTIFY">Pun dalam cara penentangan ia adalah perempuan sejati: mengumpulkan perempuan-perempuan lain di Molo untuk bergerak. Mereka berdemo sambil mengeluarkan payudara mereka. Kata Ma Leta, “pada waktu aksi-aksi demo, perempuan-perempuan di Molo mengeluarkan payudaranya untuk menunjukkan kalau tanah kami diambil sama dengan air susu ibu diambil, dan kami tidak akan bisa menyusui lagi.”</p>
<p align="JUSTIFY">Karena perjungannya itu pula, Ma Leta pernah menjadi kandidat penerima hadiah Nobel tahun 2005 bersama seribu kandidat perempuan lainnya. Juni 2007, ia mendapat kehormatan bertemu dengan Hina Jilani, Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa. (<strong>Mohamad Guntur Romli) </strong></p>
<p align="JUSTIFY"><strong></strong><em>Tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Perempuan Edisi 58</em>.</p>
<p align="JUSTIFY"><em>Foto diambil dari; KOMPAS/IWAB SETIAWAN</em></p>
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY">_________________________________________________________________________</p>
<div id="sdendnote1">
<p><a name="sdendnote1sym" href="#sdendnote1anc"></a>i Kelik Ismunandar, <em>Perempuan Molo: Mendobrak Kebisuan, </em>www.pikul.or.id</p>
</div>
<div id="sdendnote2">
<p><a name="sdendnote2sym" href="#sdendnote2anc"></a>ii Baca perlawanan rakyat Molo di blog mereka: www.rakyatmolloblogspot.com</p>
</div>
<div id="sdendnote3">
<p><a name="sdendnote3sym" href="#sdendnote3anc"></a>iii Hadriani P, <em>Kartini Pegunungan Molo</em>, Koran Tempo, 7 November 2007</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalperempuan.com/2012/04/aleta-ba%e2%80%99un-menyusui-batu-dan-mengasuh-tanah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

