Utama » Catatan Jurnal Perempuan

Berita Perkosaan: Kejahatan Seksual Bukan Rekreasi Seksual

Artikel dikirim oleh pada 31 October 2011 – 12:04 pm3 Komentar

 

Bagaimana orang tidak menyalahkan penampilan perempuan bila hampir setiap pagi kita disajikan berita-berita perkosaan yang dinarasikan sebagai  rekreasi seksual. Pos Kota Jumat, 28 Oktober 2011 yang lalu dalam judul besar dan layout yang menarik perhatian “Gadis digilir tiga lelaki di dalam mobil, selama satu jam kendaraan melaju” yang diletakkan pada kalimat pertama, dan dilanjutkan opini yang mewakili suara, hati dan keinginan si pemerkosa dengan kalimat  (garisbawah menandakan kata yang perlu diamati): 

Dengan dalih tak kuasa menahan nafsu, tiga pemuda di Jakarta Selatan menggilir seorang gadis idiot di dalam mobil yang tengah melaju. Ketiganya mengaku terangsang melihat korban yang megenakan celana pendek.  

Saya tidak mengerti bagaimana  surat kabar ini menuliskan kasus perkosaan dimulai dari kalimat pertama dengan penuturan seperti menggambarkan kesenangan seks pria (yang disebut pemuda) pada seorang korban perempuan yang tak terwakili sama sekali suaranya dan ditulisnya sebagai “gadis idiot”. Secara spesifik bahkan suara si pemerkosa sengaja kembali ditambahkan “terangsang karena korban mengenakan celana pendek”. 

Belum cukup sampai situ. Dalam kolom “Nah Ini Dia” di surat kabar yang sama,  jelas kita bisa lihat kolom bawah pojok kanan yang disertai karikatur seorang pria ingin menyerang perempuan berbusana minim dengan gaya cuma kaget dan pasrah, padahal kisah yang diangkat tentang perkosaan. Sama dengan tulisan sebelumnya, alinea pertama langsung menggambarkan adegan perkosaan seolah sebagai adegan seks yang panas.

Kasihan sungguh nasib gadis Zulaikha, 19. Digauli paksa sekali saja sakitnya bukan main, eh pak guru Subron, 42, malam-malem telepon ngajak ketemu. Dikiranya mau minta maaf, eh… malah minta nambah! Jadilah dia diperkosa dua kali oleh guru ngajinya dalam seminggu.

Dan dalam karikatur tersebut si pria dengan ekspresi memegang tubuh korban tertulis, “Siapa bilang mau minta maaf, saya mau minta lagi…”

Jelas bahwa sajian hampir setiap pagi dengan kasus perkosaan menjadi tema hiburan untuk tujuan membangkitkan imajinasi seksual sengaja ditulis untuk menarik pembaca. Perkosaan menjadi hal yang wajar dan bahan tertawaan. Tidak hanya Pos Kota bisa kita temukan, kalau kita jeli, banyak suratkabar yang mengajak pembaca perlahan-lahan untuk tidak menyadari bahwa kasus perkosaan adalah kejahatan kemanusiaan melainkan  adegan seks panas dan seolah korbannya juga suka diperkosa! 

Tulisan-tulisan seperti ini sepertinya remeh dan dianggap murahan saja. Tetapi kita tidak pernah menyadari dampaknya yang tidak langsung. Alih-alih membangun empati pada korban, suratkabar seperti ini malah memperparah mitos perkosaan. Tulisan semacam ini meruntuhkan fakta-fakta yang kita temui sehari-hari bahwa korban perkosaan bukanlah disebabkan oleh busana, tetapi serangan seksual yang direncanakan, kondisi korban yang lemah dan rentan, dilakukan sebagaimana kriminal lainnya. Menggambarkan pakaian yang dikenakan korban terlalu berlebih-lebihan digambarkan seksi. Semua itu hanya bumbu-bumbu supaya pembaca terus memelototi berita tersebut sambil menikmati imajinasi seksnya dimana perempuan jadi obyek di pagi hari.  Mereka tidak perlu membaca stensilan atau menonton materi pornografi karena berita-berita semacam ini sudah cukup mewakili. 

***

Pencopetan, pembunuhan, maling ayam, koruptor, bandar kakap, adalah kata-kata kunci yang selalu berkaitan dengan kejadian-kejadian kriminal. Kalimat selanjutnya biasanya kata-kata menakutkan seperti “DIVONIS MATI”, atau “BAKAR DIRI”.

Tapi tahukah anda apa yang terjadi bila yang diberitakan adalah kasus-kasus yang dialami perempuan? Setiap pagi ada saja yang kita temukan. Hari ini (Senin, 31 Oktober 2011), Pos Kota memberitakan TKW dengan sangat “merangsang” dengan judul” DI LUAR NEGERI DIPERAS, DI TANAH AIR DIREMAS, Nasib TKW makin Memelas.

Padahal berita tentang TKW yang bekerja di Singapur ini mengenai kekerasan dan eksploitasi kerja yang dilakukan majikannya, bukan semata-mata soal –meremas payudara. 

Atau bagaimana dari setiap kriminalitas yang dialami perempuan selalu pemberitaan yang berkaitan dengan seksualitas maupun tubuhnya, apakah itu perkosaan, pelecehan, ataupun aborsi. Seperti judul “Habis Aborsi Bakar Diri” dan tampak tubuh telanjang perempuan melepuh habis dibakar api yang belum tentu benar apakah karena menyesal  melakukan aborsi. Dalam berita tersebut tertulis “dugaan” seperti dalam kalimat ini.

Dugaan latar belakang aksi membakar diri sendiri terungkap dari anak penjaga kos, Yenti, 18. Ia pernah mengaku Umu pernah mengungkapkan kegelisahannya karena telah menggugurkan kandungannya.

Bayangkan, untuk sebuah dugaan, berita tentang perempuan terbakar ini dapat sekejap menyimpulkan disebabkan penyesalan melakukan aborsi dan dihubungkan dengan dunia malam, hanya atas dasar pengakuan anak penjaga kos, bukan atas hasil penyidikan.   Pemberitaan seperti ini akhirnya bukan bertujuan untuk benar-benar mengungkapkan fakta atau kejadian sesungguhnya, melainkan sajian yang sangat menarik perhatian bila mengandung kekerasan, seks, dan tubuh perempuan.

Bandingkan dengan berita-berita kriminal umumnya, apabila korban atau pelaku bukan perempuan, kalimat-kalimat tersebut di atas tidak ditampilkan.  Jadi bagaimanakah seharusnya kita sebagai pembaca? Catatan ini untuk memastikan bahwa kita sebagai pembaca tetap kritis dan tidak mudah dibohongi pemberitaan yang bombastis untuk tujuan keuntungan semata, tanpa mempertimbangkan perasaan korban-korban perempuan yang diberitakan.  (Mariana Amiruddin)

PENTING : Kami membutuhkan sumbangan dana Anda, jadilah Sahabat Jurnal Perempuan! Sumbangan Anda membantu Jurnal Perempuan untuk terus terbit dan hadir dihadapan Anda.

3 Komentar »

  • miftahul jannah says:

    tak ingin melemahkan tapi posisi perempuan sangat rentan. kita perempuan bisa melangkah bahkan berlari diatas krikil-krikil tajam.
    bergerak untuk perempuan-perempuan indonesia!!

  • Lady says:

    Setuju! perempuan hanya dijadikan objek dalam kondisi apapun! Untuk pemerintah sebaiknya lebih membuka mata atas masalah ini yg sangat mengganggu ketentraman hati wanita dlm keamanan di wilayah mana pun dalam kehidupannya.baik di lingkungan yg org2nya tdk qta kenal ataupun lingkungan qta sehari hari yg sdh qta kenal. Sebaiknya buatkan Undang Undang yang mengatur tegas hukuman bagi para pemerkosa, jangan hanya ditahan sebentar setelah itu mereka bebas utk melakukan perkosaan kembali. Sebaiknya hukuman yg lebih sadis diberlakukan pada mereka,mengingat beban mental yang dialami korban berbekas sepanjang hidupnya dan mempengaruhi masa depannya. Akan lebih menakutkan bagi kaum pria utk tdk melakukan tindakan semena2 yg melecehkan harga diri wanita tsb dgn cara hukuman MEMOTONG KEMALUANNYA!!! agar mereka berfikir seribu kali sebelum melakukannya. agar mereka menimbang utk menikmati sekejap saja tapi setelah itu kehilangan fungsi seumur hidupnya atau menjaga juga BARANGNYA dan tingkah lakunya! hal ini jg baik bagi mereka guna menghindari perbuatan dosa dari kejahatannya.

    Saya tau rasa beratnya beban mereka, karena saya yg pernah beberapa x mengalami pelecehan di tempat umum bahkan di lingkungan sendiri pun merasakan beban mental yg teramat berat, apalagi mereka para korban! Jadi tolong bagi pemerintah agar mampu membantu menjaga harkat n martabat wanita dengan Undang Undang yang melindungi. masa qta tidak boleh mendapatkan hak hidup tentram sebagai warga negara/masyarakat di negaranya sendiri :(

  • Lady says:

    Setuju! perempuan hanya dijadikan objek dalam kondisi apapun! Untuk pemerintah sebaiknya lebih membuka mata atas masalah ini yg sangat mengganggu ketentraman hati wanita dlm keamanan di wilayah mana pun dalam kehidupannya.baik di lingkungan yg org2nya tdk qta kenal ataupun lingkungan qta sehari hari yg sdh qta kenal. Sebaiknya buatkan Undang Undang yang mengatur tegas hukuman bagi para pemerkosa, jangan hanya ditahan sebentar setelah itu mereka bebas utk melakukan perkosaan kembali. Sebaiknya hukuman yg lebih sadis diberlakukan pada mereka,mengingat beban mental yang dialami korban berbekas sepanjang hidupnya dan mempengaruhi masa depannya. Akan lebih menakutkan bagi kaum pria utk tdk melakukan tindakan semena2 yg melecehkan harga diri wanita tsb dgn cara hukuman MEMOTONG KEMALUANNYA!!! agar mereka berfikir seribu kali sebelum melakukannya. agar mereka menimbang utk menikmati sekejap saja tapi setelah itu kehilangan fungsi seumur hidupnya atau menjaga juga BARANGNYA dan tingkah lakunya! hal ini jg baik bagi mereka guna menghindari perbuatan dosa dari kejahatannya.
    Saya tau rasa beratnya beban mereka, karena saya yg pernah beberapa x mengalami pelecehan di tempat umum bahkan di lingkungan sendiri pun merasakan beban mental yg teramat berat, apalagi mereka para korban! Jadi tolong bagi pemerintah agar mampu membantu menjaga harkat n martabat wanita dengan Undang Undang yang melindungi. masa qta tidak boleh mendapatkan hak hidup tentram sebagai warga negara/masyarakat di negaranya sendiri :(

Tinggalkan komentar!

Tuliskan komentar Anda atau berikan trackback dari website Anda. Anda juga dapat berlangganan komentar artikel ini melalui RSS.

Tetap pada topic. Jangan lakukan spamming.

Anda dapat menggunakan tag HTML ini:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Website ini menggunakan Gravatar. Untuk mendapatkan avatar pribadi Anda, silakan register dan upload avatar Anda di Gravatar.