Utama » F, Kamus Feminis

Fundamentalism (Fundamentalisme)

Artikel dikirim oleh pada 18 May 2011 – 7:27 amBelum Ada Komentar

Secara kontekstual, banyak terdapat definisi tentang fundamentalisme. Fundamentalisme dalam Islam misalnya diintepretasikan sebagai penolakan ajakan-ajakan pembaharuan keagamaan dan gigih mempertahankan status quo. Sementara fundamentalisme Yahudi diartikan sebagai reaksi penolakan terhadap aliran pencerahan yang menjadi mainstream di Eropa saat itu. Fundamentalisme dalam wacana feminisme sendiri dimaknai sebagai persekutuan antar para perempuan dalam mempertahankan tradisi. Dan ini tentu saja ini lahir dari pemikiran para feminis barat. Padahal tidak dapat pula dikatakan bahwa sikap fundamentalis ini sebagai tipikal negara dunia ketiga. Bahkan di negara barat, persaingan antar fundamentalisme kristen menggambarkan kegamangan pada krisis yang diakibatkan sistem kapitalisme dan permasalah gender yang simultan dari peran gender tradisional yang didengung-dengungkan.
Sementara kaum feminis barat menganggap dirinya agen kebenaran dengan mengkritik perempuan timur yang mengenakan kerudung dan mengalami mutilasi genital, maka feminisme Asia dan feminisme Arab memiliki pengalaman tersendiri dalam berinteraksi dengan kelompok imperialis dan gerakan nasionalis. Perempuan Aljazair misalnya, hingga saat ini masih mengenakan hijab sebagai penolakan atas pengaruh kolonialisme Perancis dan semua gagasan-gagasan barat.

Perempuan dalam fundamentalisme
Dalam “Encyclopedia of Politics and Religion” disebutkan bahwa  fundamentalisme adalah sebuah bentuk yang lebih mutakhir dari politisasi agama dalam mengidentifikasikan dirinya sebagai “penganut sejati”. Fundamentalisme umumnya menentang kaum “sekuler” dan berminat untuk mengembalikan semua kondisi sosial politik, kultural dan ekonomi sesuai dengan norma-norma dan tradisi agama.
Para “penganut sejati” ini lalu kerap mengadopsi pendekatan yang berbeda guna mencapai tujuannya. Ada yang masuk ke dalam wilayahwilayah sosial seperti mendirikan sekolah, intitut agama, rumah sakit, panti wreda, menerbitkan jurnal, koran serta menyediakan berbagai pelayanan publik. Sementara kelompok fundamentalis lainnya berupaya memasuki arena politik dengan mendirikan partai politik dan menjadi kontestan pemilu. Ada juga kaum fundamentalis yang membangun kekuatan (power) dalam melakukan perubahan sosial dengan cara yang dramatis dan militan seperti menebar teror dan kekerasan. Bagi mereka, jika diperlukan aturan-aturan hukum dan cara politik konvensional dapat ditinggalkan guna mencapai target besar yakni mengintimidasi lawan agar menerima kemauan mereka.
Apapun akar dari kaum fundamentalis tersebut entah ia dari Yahudi, Kristen maupun Islam, umumnya mereka bertahan dari apa yang mereka yakini sebagai kepercayaan tradisional. Kaum fundamentalis juga bisa diidentifikasikan sebagai kaum militan konservatif yang melihat dunia sebagai arena pertarungan antara kebenaran absolut melawan kejahatan absolut. Karenanya mereka menganggap diri adalah pejuang-pejuang spiritual melawan kaum kafir. Banyak yang beranggapan bahwa kaum fundamentalis terdiri dari orang-orang yang berpendidikan rendah dan berwawasan sempit, padahal tidak sedikit pula kaum fundamentalis yang berprofesi sebagai dokter, perawat, arsitek, guru, dosen, kalangan pengusaha dan sebagainya yang menyediakan diri mereka sebagai alat dari teknologi, komunikasi massa dan sains modern.
Lalu bagaimana dengan nasib perempuan dalam kacamata fundamentalisme? Telah dikatakan bahwa pada dasarnya kaum fundamentalis menolak segala bentuk nilai-nilai sekuler. Fundamentalis juga cenderung anti feminis dengan menolak ide-ide kesetaraan gender, karena mereka percaya bahwa gerakan untuk membebaskan perempuan dari patriarkisme (masyarakat yang didominasi oleh laki-laki) bertentangan dengan keinginan Allah/Tuhan/Yahwe yang menciptakan manusia perempuan dan laki-laki untuk peran yang berbeda, dengan posisi laki-laki yang mensubordinatkan perempuan masyarakat maupun keluarga. Dalam ide pembagian kekuasaan, kelompok fundamentalis umumnya juga percaya bahwa pemimpin yang memiliki otoritas tertinggi haruslah laki-laki yang juga karimastik.

Feminis Fundamentalis
Dalam sebuah konferensi feminis yang diadakan di Arizona di awal tahun 1990, terbetik istilah baru yang muncul dari peserta tentang apakah fenomena “feminis fundamentalis” saat ini benar-benar ada. Beberapa feminis kemudian tidak sepakat dengan istilah feminis fundamentalis ini, sebab feminisme bukanlah agama dan tidak mempunyai teks-teks suci. Namun sebuah hal yang penting dan menjadi pelajaran bersama adalah bahwa sikap dan kelakuan kaum feminis terkadang mirip dengan kelompok fundamentalis yang percaya mentah-mentah akan suatu doktrin.
Sikap fundamentalis kaum feminis ditengarai bermula dari kepercayaan yang kuat sekelompok aliran feminisme tertentu bahwa semua perempuan adalah korban penindasan, dan semua laki-laki adalah pelaku kekerasan. Perempuan juga digambarkan sebagai mahluk yang tidak berdaya (powerless) dan untuk melawan kesewenangwenangan laki-laki tersebut maka solusinya adalah semua perempuan harus putus hubungan dengan mahluk berjenis kelamin laki-laki. Tidak sampai disitu saja, kelompok feminis yang juga diidentifikasikan dengan feminis fundamentalis juga percaya pada determinan biologis bahwa kromosom Y pada laki-laki menghasilkan sifat agresif (abusive) yang lebih tinggi ketimbang perempuan sementara kromosom X cenderung memprogram perempuan untuk lebih baik hati. Karena itu pula laki-laki lebih gemar melakukan kekerasan.
Harusnya perempuan tidak terjebak dalam oposisi keras sebuah definisi, sebab akhirnya mereka sama halnya masyarakat laki-laki yang kerap mengatakan bahwa “perempuan adalah sumber dosa”, ketika kaum feminis mengatakan cara perempuan adalah yang terbaik, maka sebenarnya para feminis telah menggunakan pola yang sama. Celia Kitzinger lalu mengusulkan agar kita beranjak satu langkah di luar perdebatan tersebut dan menolak kategori masyarakat patriarkis dalam mendefinisikan “perempuan” ataupun “laki-laki”, sebab meski secara kodrat perbedaan antara perempuan dan laki-laki akan selalu ada namun tanpa sadar kita sebenarnya kerap  terperangkap dalam pengkategorian “siapakah perempuan” dan “siapakah laki-laki” ketimbang sebuah pertanyaan seperti “bagaimana perempuan berbeda”. (AV)

Dikutip dari: Jurnla Perempuan #32 “Perempuan dan Fundamentalisme”

(Disadur dari Chilla Bulbeck, Re-Orienting Western Feminisms, Women Diversity in a Postcolonial World, Cambridge: Cambridge University Press, 1998, Encyclopedia of Politics dan Religien, ed. Robert Wthnow. 2 vols. (Washington D.C.: Congressional Quaterly, Inc., 1998) p. 280-288 dan “Fundamentally Female” oleh Celia Kitzinger dalam New Internationalist, issue 210 – August 1990, http://www.newint.org)

PENTING : Kami membutuhkan sumbangan dana Anda, jadilah Sahabat Jurnal Perempuan! Sumbangan Anda membantu Jurnal Perempuan untuk terus terbit dan hadir dihadapan Anda.

Tinggalkan komentar!

Tuliskan komentar Anda atau berikan trackback dari website Anda. Anda juga dapat berlangganan komentar artikel ini melalui RSS.

Tetap pada topic. Jangan lakukan spamming.

Anda dapat menggunakan tag HTML ini:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Website ini menggunakan Gravatar. Untuk mendapatkan avatar pribadi Anda, silakan register dan upload avatar Anda di Gravatar.